Senin, 20 Juni 2016

KENDURI MENINGGALNYA AYAH
Desember 2014




BANI MUH DAROMI
Plumbon Cilik Tempel, 2015-2016
















Asfia saat usia 2 tahun. Acara Trah di Lek Hadi Plumbon.
Asfia dipangku Budhe Margiyanti saat nyumbang manten Ikhsan.

Minggu, 25 Oktober 2015

MUJI HARJO

Dulu ia adalah temanku saat sekolah di SMSR dan ISI Yogyakarta. Meski kami beda jurusan, ia mengambil seni lukis dan aku seni patung. Ia termasuk pinter seperti aku. Tapi saat di ISI Yogyakarta sempat tak terdengar suaranya dan entah kemana ia melintang.

Setelah 22 tahun, aku mengikuti dia lewat pertemanan di FB. Ia menyapa dan selajutnya bermain denganku. Aku tidak tahu persis, tapi menurut berita ia sempat kocar-kacir dalam hidupnya. Entah apa sebabnya..!

Aku menganggap keadaan manusia memang kadang melalui proses titik nadzir yang membuat orang kadang harus melewati fase kritis, bisa gila/stres kalau tak tahan. Saat ketemu aku menganggap ia telah melewati fase tersebut. Ia sopan dan berpakaian rapi. Menunjukkan karya dan bakatnya yang luar biasa, menciptakan karya-karya lukis yang hiper-realis. Ia sekarang sudah sampai fase pengendapan, kemapanan dan optimis realistik dalam mengarungi kehidupan.

Sukses, jayalah temanku..! Maaf, aku belum bisa membalas kunjunganmu untuk aku ke rumahmu.
Anehnya, saat aku tag fotomu di rumahku di halaman FB mu. Kau tidak membalas sedikitpun, komen atau like pun tidak. Apakah kamu tidak berkenan ? Ya, sudahlah. Berpikir positif aja, biarlah, untuk apa dibahas !


SAJI

Lelaki usia 46 itu bernama Saji. Pekerjaan petani dan dagang sapi. Hilir mudik bergelut dalam dunia persapian pernah juga dipenjara, Berkali-kali dicari polisi. Uang dari penjualan sapi yang seharusnya untuk pemilik sapi, ia gunakan foya-foya dan gopyoh untuk memberikan dana sosial dan lain-lain.

Rumah tangganya penuh ontran. Sirep tatkala ia mengikuti agama istrinya Katholik. Meskipun akhirnya ontran-ontran pun terjadi lagi. Lalu di usir untuk kembali ke rumahnya di Mayangan  bersama istri dan anaknya. Agak damai dan bangga setelah anak pertamanya menjadi seorang marinir di Surabaya. Tuhan maha berkehendak.

Lama tidak terdengar suaranya. Ia tiba-tiba muncul dengan menaiki sapi. Mas,..aku sapa !
Ia pun cuek dengan menjawab teguranku, nopo mas Sulis..!